This is default featured slide 1 title

Berita Terbaru Dunia Pendidikan dan Agama | DuPenA http://dupena.blogspot.com

This is default featured slide 2 title

Berita Terbaru Dunia Pendidikan dan Agama | DuPenA http://dupena.blogspot.com

This is default featured slide 3 title

Berita Terbaru Dunia Pendidikan dan Agama | DuPenA http://dupena.blogspot.com

This is default featured slide 4 title

Berita Terbaru Dunia Pendidikan dan Agama | DuPenA http://dupena.blogspot.com

This is default featured slide 5 title

Berita Terbaru Dunia Pendidikan dan Agama | DuPenA http://dupena.blogspot.com

Grosir Jilbab Murah

Friday, December 14, 2012

Belajar Mengenal Fakta Aids dan Mitos Aids Sebagai Pembelajaran


Belajar Mengenal Fakta Aids dan Mitos Aids Sebagai Pembelajaran Sebagai penyakit yang belum juga ada penyembuhnya secara medis, banyak orang masih percaya berbagai mitos penularan virus HIV. Akibatnya, ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) masih dijauhi. 

Berdekatan dengan ODHA saat berkeringat, memakai peralatan makan yang sama, dan segala macam kontak fisik sebisa mungkin dihindari agar semakin minim terjadi penularan. Apakah benar demikian? Inilah mitos dan fakta seputar AIDS 

Mitos: HIV dapat menular melalui penggunaan alat makan bersama ?
Fakta: Tidak terdapat bukti bahwa HIV dapat ditularkan melalui penggunaan alat makan secara bersama.

 
Mitos: HIV dapat ditularkan melalui jabat tangan ?
Fakta: HIV tidak ditularkan oleh kontak sehari-hari dalam kegiatan sosial, di sekolah ataupun di tempat kerja. Anda tidak dapat terinfeksi hanya karena Anda berjabat tangan, berpelukan, menggunakan toilet bersama, minum dari gelas yang juga digunakan oleh seseorang yang terkena HIV, atau berada berdekatan dengan seseorang yang terinfeksi yang sedang bersin atau batuk.


Mitos: HIV hanya menjangkiti kelompok homoseksual atau pengguna narkoba saja ?
Fakta: Tidak. Setiap orang yang melakukan hubungan seks yang tidak terlindungi, berbagi penggunaan alat suntikan atau diberi transfusi dengan darah yang terkontaminasi HIV dapat tertular. Bayi dapat terinfeksi HIV dari ibunya selama masa kehamilan, selama proses persalinan atau setelah kelahiran melalui pemberian air susu ibu.

Mitos: Kita dapat mengetahui bahwa seseorang terkena HIV hanya dengan melihat dari penampilannya.
Fakta: Kita tidak dapat mengetahui bahwa seseorang HIV positif hanya dengan melihat penampilan mereka. Seseorang yang sudah terinfeksi HIV bisa saja nampak sehat dan merasa baik-baik saja, namun mereka tetap dapat menularkan virusnya. Tes darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak.

 
Mitos: Minum antibiotik sebelum melakukan hubungan seks dapat mencegah terkena infeksi menular seksual (IMS).
Fakta: Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi, bukan untuk pencegahan. Pencegahan IMS hanya dapat dilakukan dengan penggunaan kondom secara konsisten dan benar ketika melakukan seks beresiko. Satu hal lagi, IMS merupakan pintu masuk virus HIV untuk masuk ke dalam tubuh manusia.

 
Mitos: Anak dari ibu yang terinfeksi HIV pasti juga positif HIV.
Fakta: Kemungkinan penularan dari ibu ke anak menurut penelitian adalah 25% – 40% (bukan 100%). Tapi dengan adanya program PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission), maka kemungkinan penularan bisa ditekan hingga di bawah 2%. Hal ini memberikan kemungkinan besar bagi ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) untuk bisa mempunyai anak yang terbebas dari HIV.

 
Mitos: Terapi antiretroviral dapat mencegah penularan HIV.
Fakta: Terapi antiretroviral tidal dapat mencegah penularan virus ke orang lain. Terapi dapat membantu menurunkan jumlah virus ke tingkat yang tidak terdeteksi, namun virusnya masih tetap ada dalam tubuh dan dapat ditularkan ke orang lain melalui hubungan seksual, dengan bergantian memakai peralatan suntikan atau melalui ibu yang menyusui bayinya.

 

 
Mitos: Nyamuk dapat menularkan HIV
Fakta: Nyamuk tidak menularkan darah orang lain yang mereka hisap kepada korban baru. HIV / AIDS tidak mereproduksi pada serangga, sehingga virus ini tidak dapat bertahan hidup pada nyamuk untuk ditransmisikan melalui air liur.

Mitos: orang yang positif HIV tampak sakit
Fakta: Seseorang bisa terinfeksi HIV/ AIDS selama lebih dari 10 tahun tanpa menunjukkan tanda atau gejala. Selama bertahun-tahun, orang yang terkena HIV bisa terlihat sehat, mampu bekerja seperti biasa dan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. 

 
Mitos: Terinfeksi HIV berarti vonis mati.
Fakta: Dengan perawatan dan pengobatan serta pola hidup sehat, seseorang yang terinfeksi HIV tetap dapat sehat dan berumur panjang. ARV (Antiretroviral) adalah kemajuan penemuan pengobatan yang mampu menekan perkembangan virus sehingga kekebalan tubuh tetap pada posisi aman. Fase AIDS dapat dicegah dengan kemampuan ARV sehingga orang yang terinfeksi HIV dapat tetap hidup sehat, walaupun virus HIV ada dalam tubuhnya.

 
Semoga dengan memahami fakta tentang AIDS bisa membuat kita tidak lagi menjauhi ODHA. Namun, patut diingat pengguna narkoba dan pelaku seks bebas sangat rentan terhadap penularan AIDS. 

Friday, October 26, 2012

Laku.com Situs Belanja Online Paling Favorit di Indonesia

Laku.comSitus belanja online kini tumbuh subur di Indonesia, hal ini seiring dengan peningkatan pengguna internet dan kesadaran masyarakat Indonesia yang mulai menaruh kepercayaan dengan pembelanjaan sistem online. Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap kita melakukan transaksi secara online pasti akan timbul pertanyaan jangan-jangan barang yang kita beli tidak akan dikirim, barang yang dibeli tidak sesuai dengan foto yang ditampilkan, atau kualitas barang tidak sesuai dengan yang pembeli harapkan? Hal tiu sangatlah wajar mengingat dalam proses transaksi belanja online kita tidak saling bertemu dan mengenal antara pembeli dan penjual. Namun keraguan-keraguan itu harus kita tinggalkan mulai dari sekarang, mengapa? Karena teah hadir satu situs belanja online paling favorit di Indonesia dengan nama Laku.com

Pertanyaan sekarang yang muncul adalah mengapa harus belanja di Laku.com? Padahal jauh sebelumnya sudah ada banyak situs belanja online lainnya yang lebih dulu launching. Jawabannya sangat sederhana, yaitu adanya unsur Trust (kepercayaan), Responsibility (tanggungjawab), dan Service Soul (jiwa melayani).

Unsur pertama yaitu Trust (kepercayaan) sangat diutamakan dalam menjalankan bisnis belanja online. Dan hal ini sangat dipahami dengan baik oleh jajaran manajemen Laku.com Sebagai bukti adalah adanya jaminan kualitas dan kesesuaian barang yang akan dikirim kepada pelanggan. Jadi kita tidak perlu khawatir akan membeli kucing dalam karung, karena jika barang yang kita beli tidak sesuai dengan kenyataanya maka Laku.com akan menggantinya 100% sebagai bentuk komitmen menbangun kepercayaan dengan para pembeli..

Responsibility (tanggungjawab) dari situs belanja Laku.com bisa kita rasakan saat pertama kali kita mengunjunginya. Silahkan klik link Laku.com untuk merasakan bentuk tanggungjawab tersebut. Dimana kita akan dilayani dengan sepenuh hati oleh para Customer Service yang ramah dan santun selama hampir setiap hari yaitu Senin-Jum’at dari pukul 08.30 – 24.00 dan Sabtu pukul 08.30 – 17.00. Ketika terjadi komplain dari pelanggan pun tetap dilayani dengan baik, dan senangnya hingga artikel ini ditulis belum tercatat satu komplain pun yang dilayangkan pelanggan kepada Laku.com

Service Soul / jiwa melayani yang diterapkan manajemen Laku.com memang layak kita acungi dua jempol. Dan yang terbaru, pelanggan dimanjakan dengan adanya gratis ongkos kirim selama pembelanjaan di Bulan Oktober ini. Gimana sobat... keren kan belanja di Laku.com?

Selain itu salah satu kelebihan situs belanja online laku.com jika dibandingkan dengan situs serupa adalah mengenai banyaknya jenis barang yang ditawarkan. Lihat saja mulai dari semua fashion model terbaru, lingerie, jam tangan, aksesoris, make up, tas, fancy dll semua ada dan dijual dengan harga yang relatif murah tapi tidak murahan.

Cara beli yang mudah dan kepedulian Laku.com yang memberi kesempatan bagi siapapun untuk menjadi Reseller juga membuat situs belanja online ini semakin mendapat hati dan kepercayaan dari pelanggannya. Untuk mengetahi keuntungan apa saja yang akan kita dapat jika menjadi reseller silahkan ikuti link reseller Laku.com ini.

Ada ungkapan Tak Kenal Maka Tak Sayang, jika kita belum pernah belanja maka tidak akan merasakan banyak keuntungan yang ditawarkan Laku.com Sebagai pertimbangan, saya akan berbagi pengalaman saat belanja di situs belanja online terfavorit di Indonesia Laku.com

Awalnya saya lihat-lihat barang yang dijual, kemudian memilih produk sesuai dengan kebutuhan dan budget saya. Setelah itu saya lakukan order sebagaimana yang disarankan laku.com di cara beli kemudian saya transfer uang sebesar yang tertera di chart belanja saya. Langkah terakhir adalah melakukan konfirmasi pembayaran kepada Customer Service dan saya tinggal menunggu barang belanjaan saya yang ternyata datang tepat waktu dan dalam kondisi yang baik sebagaimana harapan saya. Ini dia beberapa foto barang dari Laku.com yang pernah saya beli:

Aku beli jam tangan keren ini untuk Suamiku tercinta, hagranya murah modelnya gaul tentunya hanya di Laku.com

Kalau yang ini jam tangan anak model Angry Bird warna hitam untuk anak  tersayang yang bernama Abiem, thanks Laku.com

Eitch... ini lingerie khusus dewasa, aku mau buat kejutan untuk suamiku dengan memakai lingerie yang aku beli dari Laku.com

Coba tebak harganya berapa...? Penasaran kan... ya sudah buruan cek sendiri aja di Laku.com

Yang jelas saya sudah membuktikan keunggulan belanja online di situs Laku.com dan kini giliran anda? Jangan ragu dan bimbang silahkan browsing internet dan langsung menuju situs Laku.com Pilih produknya dan lakukan order... Saya sudah membuktikannya dan sekarang giliran anda sebagai bukti bagi orang-orang dekat yang ada disekitar anda. Selamat berlanja di Laku.com

Tuesday, October 23, 2012

Tata Cara Khutbah Sholat Idul Adha


Termasuk sunnah dalam khutbah Id adalah dilakukan setelah shalat. Dalam permasalahan ini Bukhari membuat bab dalam kitab ‘Shahih’nya [1] 1: “Bab Khutbah Setelah Shalat Id”.
Ibnu Abbas berkata :
“Artinya : Aku menghadiri shalat Id bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhum. Semua mereka melakukan shalat sebelum khutbah” [Riwayat Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]
Ibnu Umar berkata :
“Artinya : Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar dan Umar menunaikan shalat Idul Fithri dan Idul Adha sebelum khutbah” [Riwayat Bukhari 963, Muslim 888, At-Tirmidzi 531, An-Nasa'i 3/183, Ibnu Majah 1276 dan Ahmad 2/12 dan 38]
Waliullah Ad-Dahlawi menyatakan ketika mengomentari bab yang dibuat Bukhari di atas [22] :
“Yakni : Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang diamalkan Al-Khulafaur Rasyidin adalah khutbah setelah shalat. Adapun perubahan yang terjadi -yang aku maksud adalah mendahulukan khutbah dari shalat dengan mengqiyaskan dengan shalat Jum’at- merupakan perbuatan bid’ah yang bersumber dari Marwan” [Dia adalah Marwan Ibnul Hakam bin Abil 'Ash, Khalifah dari Banni Umayyah wafat tahun 65H, biografinya dalam 'Tarikh Ath-Thabari 7/34]
Berkata Imam Tirmidzi [3] 3:
“Yang diamalkan dalam hal ini di sisi ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selain mereka adalah shalat Idul Fithri dan Adha dikerjakan sebelum khutbah. orang pertama yang berkhutbah sebelum shalat adalah Marwan bin Al-Hakam” [Lihat kitab Al-Umm 1/235-236 oleh Imam ASy-Syafi'i Rahimahullah dan Aridlah Al-Ahwadzi 3/3-6 oleh Al-qadli Ibnul Arabi Al-Maliki]
*
TIDAK WAJIB MENGHADIRI (MENDENGARKAN) KHUTBAH
*
Abi Said Al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu berkata : “Artinya : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla pada hari Idul Fithri dan Adha. Maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia sedangkan mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau lalu memberi pelajaran, wasiat dan perintah” [Dikeluarkan oleh Bukhari 956, Muslim 889, An-Nasa'i 3/187, Al-Baihaqi 3/280 dan Ahmad 3/36 dan 54]
Khutbah Id sebagaimana khutbah-khutbah yang lain, dibuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah Yang Maha Mulia.
Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah :
“Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membuka semua khutbahnya dengan pujian untuk Allah. Tidak ada satu hadits pun yang dihafal (hadits shahih yang menyatakan) bahwa beliau membuka khutbah Idul Fitri dan Adha dengan takbir. Adapaun yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam ‘Sunan’nya[4] 4dari Sa’ad Al-Quradhi muadzin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau memperbanyak bacaan takbir dalam khutbah dua Id, hal itu tidaklah menunjukkan bahwa beliau membuka khutbahnya dengan takbir” [Zadul Ma'ad 1/447-448]
Tidak ada yang shahih dalam sunnah bahwa khutbah Id dilakukan dua kali dengan dipisah antara keduanya dengan duduk.
Riwayat yang ada tentang hal ini lemah sekali. Al-Bazzar meriwayatkan dalam “Musnad”nya (no. 53-Musnad Sa’ad) dari gurunya Abdullah bin Syabib dengan sanadnya dari Sa’ad Radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dengan dua khutbah dan beliau memisahkan di antara keduanya dengan duduk.
Bukhari berkata tentang Abdullah bin Syabib : “Haditsnya mungkar”
Maka khutbah Id itu tetap satu kali seperti asalnya.
Menghadiri khutbah Id tidaklah wajib seperti menghadiri shalat, karena ada riwayat dari Abdullah bin Saib, ia berkata :
“Artinya : Aku menghadiri Id bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika selesai shalat, beliau bersabda : ‘Sesungguhnya kami akan berkhutbah, barangsiapa yang ingin tetap duduk untuk mendengarkan maka duduklah dan siapa yang hendak pergi maka pergilah” [Diriwayatkan Abu Daud 1155, An-Nasa'i 3/185, Ibnu Majah 1290, dan Al-Hakim 1/295, dan isnadnya Shahih. Lihat Irwaul Ghalil 3.96-98]
Berkata Ibnul Qoyyim Rahimahullah [5] 5:
“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keringanan bagi yang meghadiri shala Id untuk duduk mendengarkan khutbah atau pergi” [Lihat Majmu Fatawa Syaikhul Islam 24/214]
———————————————————————
1Yakni waktu shalat sunnah, ketika telah lewat waktu diharamkannya shalat. lihat Fathul Bari 2/457 dan An-Nihayah 2/331
2 Bukhari menyebutkan hadits ini secara muallaq dalam shahihnya 2/456 dan Abu Daud meriwayatkan secara bersambung 1135, Ibnu Majah 1317, Al-Hakim 1/295 dan Al-Baihaqi 3/282 dan sanadnya Shahih
1 Riwayat Abu Daud 1150, Ibnu Majah 1280, Ahmad 6/70 dan Al-Baihaqi 3/287 dan sanadnya Shahih. Peringatan : Termasuk sunnah, takbir dilakukan sebelum membaca (Al-Fatihah). sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Abu Daud 1152, Ibnu Majah 1278 dan Ahmad 2/180 dari Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, kakeknya berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertakbir dalam shalat Id tujuh kali pada rakaat pertama kemudian beliau membaca syrat, lalu bertakbir dan ruku’ , kemudian beliau sujud, lalu berdiri dan bertakbir lima kali, kemudian beliau membaca surat, takbir lalu ruku’, kemudian sujud”. Hadits ini hasan dengan pendukung-pendukungnya. Lihat Irwaul Ghalil 3/108-112. Yang menyelisihi ini tidaklah benar, sebagaimana diterangkan oleh Al-Alamah Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 1/443,444
2Lihat Irwaul Ghalil 3/112-114
3 Diriwayatkan Al-Baihaqi 3/291 dengan sanad yang jayyid (bagus
4 Diriwayatkan oleh Muslim 891, An-Nasa’i 8413, At-Tirmidzi 534 Ibnu Majah 1282 dari Abi Waqid Al-Laitsi radhiyallahu ‘ahu
5 Diriwayatkan oleh Muslim 878, At-Tirmidzi 533 An-Nasa’i 3/184 Ibnu Majah 1281 dari Nu’man bin Basyir Radhiyallahu ‘anhu
6 Zadul Ma’ad 1/443, lihat Majalah Al-Azhar 7/193. Sebagian ahli ilmu telah berbicara tentang sisi hikmah dibacanya surat-usrat ini, lihat ucapan mereka dalam ‘Syarhu Muslim” 6/182 dan Nailul Authar 3/297
7 Untuk mengetahui hal itu disertai dalil-dalilnya lihat tulisan ustadz kami Al-Albani dalam kitabnya ‘Shifat Shalatun Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kitab ini dicetak berkali-kali. Dan lihat risalahku ‘At-Tadzkirah fi shifat Wudhu wa Shalatin Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, risalah ringkas.
8 Tidak dinamakan ini qadla kecuali jika keluar dari waktu shala secara asal
9 Syarhu Tarajum Abwabil Bukhari 80 dan lihat kitab Al-Majmu 5/27-29
10Nomor : 592 -dengan riwayat Abi Mush’ab.
11Al-Mughni 2/244 oleh Ibnu Qudamah
1Kitabul Iedain, bab nomor 8. Lihat Fathul Bari 2/453
2 Syrahu Tarajum Abwabil Bukhari 79
3 Dalam Sunan Tirmidzi 2/411
4Dengan nomor 1287, dan diriwayatkan juga oleh Al-Hakim 3/607, Al-Baihaqi 3/299 dari Abdurrahman bin Sa’ad bin Ammar bin Sa’ad  muadzin. Abdurrahman berkata : “Telah menceritakan kepadaku bapakku dari bapaknya dari kakeknya …” lalu ia menyebutkannya. Riwayat ini isnadnya lemah, karena Abdurrahman bin Sa’ad rawi yang dhaif, sedangkan bapak dan kakeknya adalah rawi yang majhul (tidak dikenal)
5 Zadul Ma’ad 1/448
(Dikutip dari Sifat Puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Shifat shaum an Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan, Bab “Malam Lailatul Qadar”. Penulis Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid)
*kumpulan ilmu

Tata Cara Sholat Idul Adha


Tata Cara Shalat Idul adha
  • Waktu dan Tempat. Yang paling utama adalah sholat di tanah lapang kecuali ada uzur / halangan seperti hujan dll. “Abu Said Al Khudri r.a. berkata rasulullah SAW biasa keluar rumah pada hari Idul Fitri dan Adha menuju tanah lapang (Bukhori-Muslim)” “Ibnu Qayyim mengatakan nabi SAW biasa mengakhirkan sholat Idul Fitri dan menyegerakan sholat Idul Adha”.
  • Berjalan kaki menuju tempat sholat. “Rasulullah SAW biasa berangkat sholat Ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang”(Ibnu Majah) “Rasulullah saw jika melaksanakan sholat ied beliau melewati jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang “(HR. Bukhori)
  • Mandi dan memakai pakaian bagus. Diriwayatkan bahwa Ibnu Umar ra biasa memakai pakaian yang bagus pada saat sholat Ied
  • Tidak makan sebelum Sholat Idul Adha. “Buraidah ra mengatakan, Nabi saw tidak keluar menuju sholat Idul fitri sebelum makan dan pada hari raya idul adha beliau tidak makan sebelum pulang dari tempat sholat kemudian memakan sembelihan beliau”(Tirmidzi, hasan)
  • Tidak ada adzan dan iqamah. Jabir bin sumurah berkata, aku pernah melaksanakan sholat Id bersama rasulullah bukan hanya sekali atau dua kali, ketika itu tidak ada adzan maupun iqamah (Muslim)
  • Tidak ada sholat sebelum dan sesudahnya. “Ibnu Abbas ra berkata, rasulullah saw pernah keluar pada hari raya idul adha atau fitri, bel;iau mengerjakan sholat dua rekaat tetapi tidak mengerjakan sholat sunah sebelum maupun sesudahnya”(Bukhari Muslim)
  • Tata cara Sholat Idul Adha: Takbiratul ihram; ada reakaat pertama ditambah 7 kali takbir tambahan; Pada reakaat kedua ditambah takbir 5 kali; Setelah takbir tambahan dibaca Al Fatihah dan surat pilihan; Dianjurkan surat Qaaf pada rekaat pertama dan AL Qamar (rakaat kedua) atau surat AL A’laa dan Al Ghasiyah
  • Jika bertepatan Hari Jumat. Muawiyah bertanya kepada Zaid bin Arqam tentang  sholat Jumat ketika bersamaan dengan hari raya Idul adha atau idul  Fitri. Zaid mengatakan bahwa Nabi saw melaksanakan sholat Ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan sholat Jumat. Lalu zaid melanjutkan, Nabi saw bersabda ,”barang siapa yang mau sholat Jumat maka silakan melaksanakannya” (HR Abu Dawud, shahih)

Khotbah Idul Adha 1433H oleh Drs. Ahmad Yani


الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر
اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.
Ilustrasi. (inet)
Dupena - Kembali kita panjatkan puji dan syukur kepada Allah swt yang telah begitu banyak memberikan kenikmatan kepada kita sehingga kita tidak mampu menghitungnya, karena itu keharusan kita adalah memanfaatkan segala kenikmatan dari Allah swt untuk mengabdi kepada-Nya sebagai manifestasi dari rasa syukur itu, salah satunya adalah ibadah berkorban pada hari raya Idul Adha dan hari tasyrik. Allah swt berfirman:
 إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah (QS Al Kautsar [108]:1-2).
Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi besar kita Muhammad saw, kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan para penerus risalahnya yang terus berjuang untuk tegaknya nilai-nilai Islam di muka bumi ini hingga hari kiamat nanti.
Takbir, tahlil dan tahmid kembali menggema di seluruh muka bumi ini sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang menunaikan panggilan agung ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang kelima. Bersamaan dengan ibadah mereka di sana,  di sini kita pun melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah mereka, di sini kita melaksanakan ibadah yang terkait dengan ibadah haji yaitu puasa hari Arafah, pemotongan hewan qurban setelah shalat Idul Adha ini dan menggemakan takbir, tahlil dan tahmid selama hari tasyrik. Apa yang dilakukan itu maksudnya sama yaitu mendekatkan diri kepada Allah swt.
Ibadah haji dan Qurban tidak bisa dilepaskan dari sejarah kehidupan Nabi Ibrahim as, karenanya sebagai teladan para Nabi, termasuk Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim as harus kita pahami untuk selanjutnya kita teladani dalam kehidupan sekarang dan masa yang akan datang. Pada kesempatan khutbah yang singkat ini, kita bahas Empat Harapan Nabi Ibrahim yang termuat dalam doanya, harapannya menjadi harapan kita semua yang harus diperjuangkan. Pertama, Harapan Atas Dirinya. Nabi Ibrahim as amat berharap agar dirinya terhindar dari kemusyrikan, Menurut Sayyid Quthb dalam tafsirnya: “Doa ini menampakkan adanya kenikmatan lain dari nikmat-nikmat Allah. Yakni nikmat dikeluarkannya hati dari berbagai kegelapan dan kejahiliyahan syirik kepada cahaya beriman, bertauhid kepada Allah swt.”  Karena itu, iman atau tauhid merupakan nikmat terbesar yang Allah swt berikan kepada kita semua sehingga iman merupakan sesuatu yang amat prinsip dalam Islam, Allah swt berfirman menceritakan doa Nabi Ibrahim as:
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS Ibrahim [14]:35).
Di samping itu, Nabi Ibrahim as juga ingin memperoleh ilmu dan hikmah, sesuatu yang amat penting agar kehidupan bisa dijalani dengan mudah dan bermakna. Beliau juga meminta agar termasuk ke dalam kelompok orang-orang yang shalih, ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi shalih. Selain itu meminta menjadi buah tutur kata yang baik bagi generasi kemudian sebagai bentuk penghormatan dan upaya meneladani. Puncaknya adalah meminta dimasukkan ke dalam surga hingga tidak terhina dalam kehidupan di akhirat nanti, hal ini tercermin dalam doa beliau:
رَبِّ هَبْ لى حُكْماً وَأَلْحِقْنى‏ بِالصَّالِحينَ. وَاجْعَلْ لى‏ لِسانَ صِدْقٍ فى‏ الآخِرينَ. وَاجْعَلْنى‏ مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعيمِ. وَاغْفِرْ لأَبى‏ إِنَّهُ كانَ مِنَ الضَّالّينَ * وَلا تُخْزِنى يَومَ يُبْعَثُونَ
“Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian, dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mempusakai surga yang penuh kenikmatan, dan ampunilah bapakku, karena sesungguhnya ia adalah termasuk golongan orang-orang yang sesat, dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan.” (QS. Asy-Syu’ara’ [26]: 83– 87).
Dari doa Nabi Ibrahim di atas, jelas sekali betapa pentingnya menjadi shalih sehingga orang sekaliber Nabi Ibrahim masih saja berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shalih. Manakala keshalihan sudah dimiliki, cerita orang tentang diri kita bila kita tidak ada adalah kebaikan. Karena itu, harus kita koreksi diri kita, seandainya kita diwafatkan besok oleh Allah swt, kira-kira apa yang orang ceritakan tentang kita.
Hal penting lainnya dari harapan Nabi Ibrahim as adalah agar amal-amalnya diterima oleh Allah swt, termasuk orang yang tunduk dan taubatnya diterima oleh Allah swt, hal ini terdapat dalam doanya:
رَبَّنا تَقَبَّلْ مِنّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ العَلِيمُ. رَبَّنا وَاجْعَلْنا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنا مَناسِكَنا وَتُبْ عَلَيْنا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوّابُ الرَّحِيمُ
Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. QS. Al-Baqarah [2]: 127 – 129).
Syaikh Ali Ash Shabuni dalam Shafwatut Tafasir menjelaskan bahwa berulang-ulang Nabi Ibrahim dalam doanya menyebut rabbi (ya Tuhanku) agar dikabulkan doanya dan menampakkan kehinaan diri kepada Allah.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah swt.
Harapan Kedua adalah Harapan Atas Keluarga, mulai dari orang tua yang beriman dan taat kepada Allah swt, karenanya beliau pun meluruskan orang tuanya sebagaimana firman Allah swt:
وَ إِذْ قالَ إِبْراهِيمُ لِأَبِيهِ آزَرَ أَ تَتَّخِذُ أَصْناماً آلِهَةً إِنِّي أَراكَ وَ قَوْمَكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ
Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar, “Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata. (QS An’am [6]:74)
Selain istrinya yang sudah shalihah, beliau juga ingin agar anak-anaknya menjadi anak shalih, taat kepada Allah swt dan orang tuanya dengan karakter akhlak yang mulia, ini merupakan sesuatu yang amat mendasar bagi setiap anak. Karenanya beliau berdoa:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ. فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ. فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash Shaffat [37]:100-102)
Di dalam ayat lain disebutkan bahwa dengan keshalihan diharapkan membuat sang anak selalu mendirikan shalat, hati orang pun suka kepadanya dan pandai bersyukur atas kenikmatan yang diperoleh, hal ini disebutkan dalam doa Nabi Ibrahim as:
رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. (QS Ibrahim [14]:37)
Hal yang amat penting mengapa Nabi Ibrahim as amat mendambakan memiliki anak bukan semata-mata agar punya anak, tapi bagaimana anak yang shalih itu mau dan mampu melanjutkan estafet perjuangan menegakkan agama Allah swt.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Ketiga yang merupakan harapan Nabi Ibrahim adalah terhadap Masyarakat agar beriman dan taat kepada Allah swt, bahkan tidak hanya pada masanya, tapi juga generasi berikutnya. Dalam rangka itu, sejak muda Nabi Ibrahim telah membuka cakrawala berpikir agar tidak ada kemusyrikan dalam kehidupan masyarakat, Allah swt berfirman:
وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ. فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ. قَالُوا مَنْ فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ. قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ
Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang lalim”. Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (QS Al Anbiya [21]:57-60)
Karena itu, dalam doanya Nabi Ibrahim meminta agar Allah swt mengutus lagi Nabi yang menyampaikan dan mengajarkan ayat-ayat Allah swt, hal ini disebutkan dalam firman-Nya:
 رَبَّنا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولاً مِنْهُمْ يَتْلُوا عَلَيْهِمْ آياتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الكِتابَ وَالحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ العَزِيزُ الحَكِيمُ
Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Qur’an) dan Al-Hikmah serta menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”(QS Al Baqarah [2]:129)
Dalam konteks sekarang, masyarakat amat membutuhkan dakwah yang mencerahkan dan memotivasi untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dirahmati Allah.
Harapan Keempat dari Nabi Ibrahim as adalah atas Negara dan Bangsa. Beliau ingin agar negara berada dalam keadaan aman dan memperoleh rizki yang cukup dari Allah swt, bahkan Allah swt memberikan kepada semua penduduk meskipun mereka tidak beriman, beliau berdoa:
رَبِّ اجْعَلْ هذا بَلَداً ءامِناً وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَراتِ مَنْ ءامَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ
“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: “Dan kepada orang yang kafir pun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali”.”(QS Al Baqarah [2]:126)
Sayyid Quthb dalam Fi Dzilalil Quran menyatakan: “Nikmat keamanan adalah kenikmatan yang menyentuh manusia, memiliki daya tekan yang besar dan perasaannya dan berhubungan pada semangat hidup pada dirinya.”
Apa yang diharapkan oleh Nabi Ibrahim as ini bila kita ukur dalam konteks negara kita ternyata masih jauh dari harapan, hal ini karena keamanan menjadi sesuatu yang sangat mahal, sementara kesulitan mendapatkan rizki atau makan masih begitu banyak terjadi. Namun kesulitan demi kesulitan masyarakat pada suatu negara dan bangsa ternyata bukan karena Allah tidak menyediakan atau tidak memberikan rizki, tapi karena ketidakadilan dan korupsi yang merajalela. Di sinilah letak pentingnya bagi kita untuk istiqamah atau mempertahankan nilai-nilai kebenaran. Meskipun banyak orang yang korupsi, kita tetap tidak akan terlibat, karena jalur hidup kita adalah jalur yang halal.
Setiap orang bertanggung jawab untuk mewujudkan kehidupan negara dan bangsa yang baik, namun para pemimpin dan pejabat harus lebih bertanggung jawab lagi. Karena itu, kita amat menyayangkan bila banyak orang mau jadi pejabat tapi tidak mampu mempertanggungjawabkannya, jangankan di hadapan Allah swt, di hadapan masyarakat saja sudah tidak mampu, inilah pemimpin yang amat menyesali jabatan kepemimpinannya, Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِى ذَرٍّ رَضِىَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلْنِى؟ قَالَ: فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِى ثُمَّ قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ: إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ فِيْهَا
Abu Dzar RA berkata: Saya bertanya, Ya Rasulullah mengapa engkau tidak memberiku jabatan? Maka Rasulullah menepukkan tangannya pada pundakku, lalu beliau bersabda: Hai Abu Dzar, sungguh kamu ini lemah, sedangkan jabatan adalah amanah, dan jabatan itu akan menjadi kehinaan serta penyesalan pada hari kiamat, kecuali bagi orang yang memperolehnya dengan benar dan melaksanakan kewajibannya dalam jabatannya (HR. Muslim)
Akhirnya, memiliki harapan yang baik tidak cukup pencapaiannya hanya dengan doa, karenanya setiap kita harus berjuang bersama agar kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa berada dalam ridha Allah swt. Akhirnya marilah kita berdoa:
 اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zhalim dan kafir.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ
Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbaikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan.
اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا
Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا
Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian
 رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.

Khutbah Idul Adha 1433 H oleh AM. Fatwa


اَلسَّلامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهْ
اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ اَللهُ اَكْبَرْ
اَللهُ اَكْبَرْكَبِيْرًا، وَالْحَمْدُلله ِكَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَاَصِيْلاَ
لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهْ، وَنَصَرَعَبْدَهْ، وَاَعَزَّجُنْدَهُ وَهَزَمَ اْلاَحْزَابَ وَحْدَهْ
لآاِلَهَ اِلاَّ الله وَلاَ نَعْبُدُ اِلاَّ اِيَّاهْ، مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ الْكَافِرُوْن
لآاِلَهَ اِلاَّ الله ُوَالله ُاَكْبَرْ. اَلله ُاَكْبَرْ وَلله ِالْحَمْد
نَحْمَدُالله حَقَّ حَمْدَهْ، وَنَشْكُرُهُ حَقَّ شُكْرَهْ
اَشْهَدُاَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّالله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهْ
وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهْ
فَيَاعِبَادَالله، اُصِيْكُمْ وَاِيَّايَ نَفْسِيْ بِتَقْوَالله وَطَاعَتِهْ

PENDAHULUAN
dakwatuna.com - Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumulllah.
Ilustrasi. (inet)
Pada hari yang penuh berkah ini, kita bersyukur kehadirat Allah Swt. yang telah memberikan rahmat, anugerah, dan karunia sehingga kita bisa menjalankan tugas sebagai khalifah-Nya di muka bumi ini dengan baik. Dari lubuk hati yang dalam, kita harus benar-benar menginsafi bahwa tanpa limpahan rahmat-Nya, mustahil kita melanjutkan kehidupan, apalagi menunaikan tugas-tugas yang telah dibebankan. Dan janganlah kita menjadi makhluk yang kufur nikmat, karena sesungguhnya jika kita menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kita menghitungnya.
Shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw. yang telah menuntun umat manusia ke jalan yang benar sesuai syariat Islam. Dialah pendidik sejati yang menanamkan ruh iman ke dalam dada sahabat-sahabatnya, sehingga mereka menjadi sosok yang bisa memposisikan jiwa dan harta sesuai kehendak Ilahi. Dalam perjalanan sejarah, kita saksikan betapa mereka rela, bahkan berlomba untuk mengorbankan harta dan jiwanya demi meraih ridha Allah Swt.
Setiap tanggal 10 Dzul Hijjah, seluruh kaum Muslimin di dunia merayakan Idul Adha yang juga lazim disebut Idul Qurban. Ibadah ini sejatinya merupakan sarana untuk mengenang kisah heroik yang dipertontonkan dua anak manusia di pentas sejarah kehidupan yang sulit ditemui padanannya. Yaitu, Nabi Ibrahim dan putranya Nabi Ismail as. Kita semua sudah tahu rangkaian peristiwa yang dialami oleh kedua nabiyullah tersebut. Sejak dari keinginan Ibrahim untuk memiliki keturunan di usia senja, hingga kesediannya untuk menyembelih Ismail, putra kesayangannya.
Kisah luar biasa ini merupakan cerita pengorbanan paling fantastis yang pernah diabadikan sejarah. Pengorbanan tanpa pamrih yang dilakukan demi bakti dan kecintaan hakiki kepada-Nya. Berkat pengorbanan ini, Nabi Ibrahim mendapat dua kesitimewaan di sisi Tuhan dan manusia.Pertama, Allah mengangkatnya sebagai kekasih sehingga Ibrahim berhak menyandang gelar Khalilullah (kekasih Allah). Kedua, Ibrahim adalah pendiri trah anbiya’ yang dari keturunannya, lahir nabi-nabi yang lain, termasuk Nabi Muhammad Saw. Untuk keistimewaan ini, Ibrahim berhak atas gelar Abul Anbiya’ (leluhur para nabi).
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِيْ إِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ.
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.” (QS Al-Mumtahanah [60]: 4)
Keistimewaan yang dimiliki Nabi Ibrahim ini tidak diperoleh dengan mudah dan murah. Begitu banyak ujian dan cobaan yang harus dilalui, sebelum akhirnya tampil sebagai pemimpin alami yang Islami bagi umatnya. Kita tentu masih ingat dengan kisah perseteruan Ibrahim dengan Raja Namruz. Keberaniannya dalam mengungkap kesalahan serta kegigihannya dalam mengutarakan kebenaran kepada sang penguasa zalim, harus dibayar mahal dengan hukuman bakar di tengah api unggun.
Tapi Allah tidak mengantuk dan tidak tidur (Lâ ta’khudzuhu sinatuw walâ naum). Allah tidak rela jika kekasih-Nya yang berani menyuarakan kebenaran, harus menemui ajal di tengah kobaran api. Allah memerintahkan api supaya menjadi dingin dan tidak mencederai Ibrahim:
يَا نَارُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلَى إِبْرَاهِيْمَ.
“Wahai api, jadikan dirimu dingin dan selamatkan Ibrahim,” (QS Al-Anbiya’ [21]: 69)
Semangat Nabi Ibrahim inilah yang harus diwarisi oleh setiap muslim dalam berhadapan dengan para pemimpin yang zalim, arogan, dan sering berdusta. Dengan meneladani keberanian Nabi Ibrahim, akan tercipta iklim politik dan bernegara yang bersih, terhindar dari dusta dan keculasan. Aparat negara dan pemangku jabatan publik, pasti akan berpikir dua kali untuk melakukan kezaliman jika rakyatnya merupakan jelmaan jiwa Nabi Ibrahim yang tak pernah gentar untuk menyuarakan kebenaran.
DERITA UMAT AKIBAT KELAKUAN PEMIMPIN
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumulllah.
Adalah fakta yang tak bisa dipungkiri bahwa demokrasi yang berjalan saat ini belum berhasil mewujudkan cita-cita reformasi. Peluang yang terbuka lebar kepada semua orang untuk menduduki jabatan publik, ternyata menciptakan iklim politik yang kurang sehat. Banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan, termasuk menggunakan politik uang.
Demokrasi Biaya Tinggi
Besarnya nilai finansial yang harus dikorbankan untuk meraih jabatan politik, membuat sebagian pemimpin negeri ini memandang jabatan sebagai komoditas yang bisa ditransaksikan untuk dimiliki. Mereka tidak sadar bahwa cara pandang tersebut akan membentuk mereka menjadi benalu yang menghisap saripati bangsa sendiri. Mengeksploitasi sumber daya alam untuk menangguk keuntungan pribadi, kemudian menghibur umat dengan data-data statistik yang menyesatkan, hampir mirip dengan yang dilakukan Namruz bin Kan’an saat memerintah Mesopotamia 4.000 tahun yang silam.
Untuk mencegah munculnya pemimpin-pemimpin yang mewarisi kelakuan Namruz, 14 abad lalu Rasulullah Saw. berwasiat kepada kita:
إِنَّهَا سَتَكُوْنُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ مِنْ بَعْدِيْ يَعِظُوْنَ بِالْحِكْمَةِ عَلَى مَنَابِرْ. فَإِذَا نَزَلُوْا اِخْتَلَسَتْ مِنْهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ أَنْتَنَ مِنَ الْجِيْفِ. فَمَنْ صَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّيْ وَلَسْتُ مِنْهُ وَلاَ يَرِدُ عَلَى الْحَوْضِ. وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقُهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّيْ وَأَنَا مِنْهُ وَسَيَرِدُ عَلَى الْحَوْضِ.
“Sungguh, akan datang kepada kalian para pemimpin sesudahku, mereka menasihati orang di atas mimbar dengan penuh hikmah, tetapi ketika turun dari mimbar mereka berlaku culas. Hati mereka lebih busuk dari bangkai. Orang yang membenarkan kebohongan dan membantu kesewenang-wenangan mereka, tidak termasuk golonganku dan aku bukanlah golongan mereka. Mereka tidak akan mereguk air dari telagaku. Sementara itu, orang yang tidak membenarkan kebohongan dan tidak membantu kesewenang-wenangan mereka, adalah golonganku dan aku adalah golongan mereka. Mereka akan mereguk air telagaku.”                 (HR Thabrani)
Sayangnya, pragmatisme finansial telah membutakan kita dari wasiat luhur ini saat memilih pemimpin. Sehingga, banyak jabatan publik yang jatuh ke tangan sosok-sosok yang kurang amanah. Jadi, tidak perlu heran jika sekarang masyarakat Indonesia disuguhi pemandangan yang ironis ketika melihat perbedaan kontras antara kondisi rakyat dan pemimpin.
Penderitaan Rakyat dan Kemewahan Pemimpin
Saat ini masih banyak rakyat yang berjuang untuk bertahan hidup karena terhimpit kemiskinan, namun pada saat yang sama, kita menyaksikan para pejabat terlena dalam gelimang kemewahan. Hidup hedonis dan gemar bersenang-senang, memburu prestise dengan membeli barang-barang yang tidak diperlukan, bahkan melanggar rambu agama dengan mengkonsumsi makanan atau minuman haram dan obat-obatan terlarang. Mereka bersikap acuh terhadap masyarakat yang melarat, padahal mereka mendapatkan rezeki dan pertolongan berkat doa orang-orang melarat.
إِنَّمَا تُرْزَقُوْنَ وَتُنْصَرُوْنَ بِضُعَفَائِكُمْ.
“Sungguh, kalian diberi rezeki dan ditolong karena (keberadaan) orang miskin di antara kalian.” (HR Ahmad)
Hubungan antara pemimpin dengan rakyat juga tidak berjalan harmonis. Ada jurang sosial dalam serta dinding birokrasi tinggi yang memisahkan mereka dengan rakyatnya. Sehingga, jangankan untuk mengadukan hajat dan kebutuhan, untuk menyampaikan aspirasi dan koreksi saja, masyarakat dipaksa menempuh jalur panjang dan berliku. Maka wajar kalau mereka menggunakan cara demonstrasi.
Rakyat terlalu penat menunggu janji yang tak kunjung terealisasi. Terlanjur lelah meniti jalur birokrasi ketika hendak menyelesaikan masalah-masalah yang sebenarnya sederhana.
UMAT MERINDUKAN PEMIMPIN KREATIF
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumulllah.
Kondisi inilah yang membuat masyarakat merindukan pemimpin yang berjiwa negarawan. Pemimpin aspiratif yang peka terhadap kondisi dan kebutuhan rakyat. Figur yang terampil membina hubungan dengan masyarakat seperti dicontohkan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Sosok bersahaja yang memandang dan memperlakukan rakyat sebagai sahabat, tidak elitis dan meremehkan karena menganggap rakyat sebagai bawahan.
Kerinduan ini yang harus dikola dengan baik agar bisa disalurkan secara positif. Kita harus sadar bahwa dalam sistem demokrasi, kedaulatan ada di tangan rakyat. Artinya, kita bebas memilih dan mengangkat pemimpin yang kita inginkan. Oleh sebab itu, agar penderitaan akibat ulah dan kelakuan pemimpin ini segera berakhir, mari kita jadikan mekanisme suksesi kepemimpinan sebagai sarana menghadirkan pemimpin kreatif. Beri penghargaan pemimpin kreatif dengan memilihnya kembali, dan hukum pemimpin yang lemah dan culas dengan tidak memilihnya lagi.
Kriteria Pemimpin Kreatif
Supaya kerinduan ini tidak salah arah, kita harus merujuk kepada Al-Quran untuk mengetahui kriteria pemimpin kreatif.
Pertama, Qawiyyul amin atau kuat dan bisa dipercaya:
إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَئْجَرْتَ الْقَوِيُّ اْلأَمِيْنُ.
“Sungguh, orang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (QS Yusuf [12]: 26)
Ayat ini menyiratkan bahwa pemimpin kreatif adalah pribadi yang teguh pendirian dan aspiratif. Vokal dalam menyuarakan aspirasi umat, gigih dalam memperjuangkan kepentingan daerahnya di pentas nasional dan internasional, serta cerdas dalam berkomunikasi dan bernegosiasi dengan pihak lain. Bukan sosok yang gemar berkeluh-kesah, lantang saat membela kepentingan diri dan kelompoknya, mudah termakan bujuk rayu yang berpotensi menguntungkan diri namun merugikan masyarakat, serta lemah dalam bernegosiasi dengan pihak lain.
Kedua, Hafizhun ‘Alim atau terampil dan cerdas dalam menjaga aset bangsa:
قَالَ اجْعَلْنِيْ عَلَى خَزَائِنِ اْلأَرْضِ إِنَّيْ حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ.
“Jadikan aku bendaharawan negara. Sungguh, aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS Yusuf [12]: 55)
Ayat ini menerangkan bahwa pemimpin kreatif memiliki sifat amanah. Bisa dipercaya memelihara aset-aset bangsa, serta pintar mengelolanya demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Mengutamakan rakyatnya untuk mengeksplorasi kekayaan alam yang dimiliki, dan menetapkan aturan yang ketat kepada pihak asing yang ingin berinvestasi. Ia tahu betul bahwa kekayaan alam adalah anugerah Allah kepada masyarakat, sehingga ia takkan pernah tergoda untuk memanfaatnya secara pribadi.
Pemilik karakter Hafizhun ‘Alim pasti berusaha keras meningkatkan produktivitas masyarakat untuk mencapai kemandirian ekonomi, agar menjadi tuan di negerinya sendiri. Ia takkan pernah membiarkan penduduk hanya menjadi buruh bagi perusahaan-perusahaan asing yang mengeruk kekayaan alamnya.
Ketiga, Basthatan fil ilmi wal jismi atau berwawasan luas dan sehat jasmani:
إِنَّ اللهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ.
“Sungguh, Allah telah memilih pemimpinmu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (QS Al-Baqarah [2]: 247)
Makna Basthatan fil ilmi wal jismi dalam ayat ini adalah sehat jasmani dan luas wawasan. Karakter ini sangat penting bagi seorang pemimpin, karena persoalan umat dewasa ini sangat kompleks, beragam, dan menuntut penanganan yang cepat. Jika tidak ditopang oleh fisik yang prima, urusan rakyat pasti banyak yang terbengkalai. Dan jika tidak memiliki wawasan yang luas, pasti banyak kebijakan yang salah sasaran.
MEMILIH PEMIMPIN MENENTUKAN MASA DEPAN
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumulllah.
Mengapa Islam memberikan kriteria yang spesifik mengenai pemimpin? Jawabannya, karena Islam menyadari betul arti penting sebuah kepemimpinan. Islam memandang kepemimpinan sebagai sesuatu yang vital dan fundamental, karena pemimpin menempati hierarki tertinggi dalam struktur bangunan sosial. Dialah penentu arah perjalanan hidup umat. Dinamisator pembangunan fisik dan mental, serta inspirator setiap kebijakan yang mengarah pada terwujudnya kejayaan: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Pentingnya Kepemimpinan dalam Islam
Begitu pentingnya masalah kepemimpinan ini, sampai-sampai Rasulullah Saw. menganjurkan umatnya untuk mengangkat seorang pemimpin, meskipun hanya bertiga:
إِذَا خَرَجَ ثَلاَثَةٌ فِيْ سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوْا أَحَدُهُمْ.
“Jika kalian bepergian bertiga, angkatlah salah seorang sebagai pemimpin.” (HR Abu Dawud)
Para sahabat juga memahami dengan akurat posisi strategis seorang pemimpin. Sebagai bukti, ketika Rasulullah Saw. wafat, pemuka Anshar dan Muhajirin langsung menggelar musyawarah di Tsaqifah Bani Sa’idah. Mereka lebih mendahulukan suksesi kepemimpinan dibanding prosesi pemakaman sang Nabi. Hal itu dilakukan karena mereka sadar bahwa penerus Rasulullah Saw. haruslah sosok yang kredibel, kapabel, dan diterima semua golongan. Mereka akhirnya memilih Abu Bakar Ash-Shiddiq, sosok yang dinilai paling pantas menggantikan posisi Rasulullah sebagai pemimpin negara.
Keputusan para sahabat ini memang membuat pemakaman Nabi Muhammad tertunda tiga hari. Namun tetap bisa dibenarkan mengingat kekosongan atau kesalahan dalam memilih pemimpin, bisa berakibat fatal bagi kelangsungan tatanan masyarakat madani yang dirintis oleh Rasulullah Saw.
Teladan para sahabat inilah yang harus kita pahami dengan jernih. Bahwa memilih pemimpin, bukan sekadar mengangkat seorang figur untuk menduduki posisi penting dalam struktur kenegaraan dan kepemerintahan. Lebih dari itu, memilih pemimpin berarti memilih masa depan. Seperti apa karakter pemimpin yang dipilih, seperti itu jugalah masa depan yang akan dinikmati oleh suatu umat.
Artinya, jika amanah kepemimpinan diserahkan kepada pribadi keratif yang pandai meningkatkan kualitas sumber daya manusia, cerdas dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam, serta bertanggung jawab menjaga aset bangsa, berarti umat tersebut berada di jalur yang benar dalam menyongsong masa depan yang cerah. Demikian juga sebaliknya, jika kepemimpinan jatuh kepada pribadi culas yang tidak peduli dengan nasib umat, mengeruk sumber daya alam untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya, membiarkan korupsi merajalela bahkan ikut terlibat di dalamnya, pasti masa depan bangsa tersebut suram, gelap, dan tak ada harapan untuk maju.
Hubungan Pemimpin dan Masa Depan
Realitas inilah yang terjadi sepanjang sejarah umat manusia. Lihatlah bangsa Israel ribuan tahun silam. Mereka hanyalah kumpulan orang-orang bodoh yang diperbudak Fir’aun untuk membangun kemegahan dinastinya, namun setelah Nabi Musa tampil sebagai pemimpin, mereka berubah menjadi bangsa yang disegani. China awalnya adalah bangsa penggembala dan petani biasa, namun di tangan Jengis Khan, mereka berhasil membangun imperium dan kebudayaan yang luar biasa. Bangsa Arab juga sama. Awalnya mereka hanyalah segerombolan suku nomaden yang mendiami tanah tandus, tapi di tangan Muhammad bin Abdillah, mereka berevolusi menjadi kiblat peradaban dunia sepanjang abad pertengahan.
Inilah bukti sahih pentingnya figur pemimpin bagi masa depan. Ketika figur kreatif yang tampil sebagai pemimpin, umat bisa berharap untuk mengecap kemajuan, meskipun daerahnya minim sumber daya manusia dan sumber daya alam. Itulah yang berhasil dibuktikan Nabi Musa kepada bangsa Israel dan Nabi Muhammad kepada bangsa Arab. Sebaliknya, jika umat dipimpin oleh sosok yang lemah dan culas, jangan pernah berharap akan terjadi perubahan, betapa pun melimpahnya sumber daya alam dan tingginya kualitas sumber daya manusia umat tersebut. Inilah yang terjadi kepada bangsa Romawi ketika dipimpin Constantine XI, kepada bangsa Sind di India ketika dipimpin oleh Bahadur Syah, serta kepada umat Islam Andalusia ketika dipimpin Abu Abdullah.
TUNTUNAN ISLAM DALAM MEMILIH PEMIMPIN
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumulllah.
Agar tidak salah memilih pemimpin, Islam memberi kita panduan yang lengkap dan rinci.
Pertama, Memilih yang terbaik.
مَنِ اسْتَعْمَلَ رَجُلاً مِنْ عَصَابَةٍ وَفِيْهِمْ مَنْ هُوَ أَرْضَى اللهُ مِنْهُ فَقَدْ خَانَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَالْمُؤْمِنِيْنَ.
“Orang yang memilih seorang pemimpin, padahal dia tahu ada orang yang lebih pantas, maka dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya, dan Kaum Muslimin.” (HR Hakim)
Kedua, Istikharah dan Musyawarah.
مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلاَ نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ.
“Tidak akan kecewa orang yang beristikharah, dan takkan menyesal orang yang bermusyawarah.” (HR Ahmad)
Ketiga, Bertanya kepada ahli.
فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ.
Bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak tahu.” (QS An-Nahl [16]: 43)
Doa dan Harapan
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamd.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumulllah.
Dalam mengakhiri khutbah ini, khatib al-faqir ingin mengingatkan kembali bahwa kita semua memiliki tanggung jawab yang sama dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, demi terciptanya tatanan berbangsa dan bernegara yang bersih dan amanah. Oleh sebab itu, kita harus sadar bahwa setiap perjuangan pasti membutuhkan pengorbanan. Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.
Maka melalui mimbar yang agung ini, khatib al-faqir mengajak segenap komponen bangsa untuk menjadikan Idul Adha sebagai momentum dalam meningkatkan semangat juang, untuk perubahan dan perbaikan demi kemajuan bersama.
Semoga suri teladan yang ditunjukkan oleh Nabiyullah Ibrahim dan Ismail as., tidak hanya menjadi khasanah ilmu yang menghiasi cakrawala pengetahuan kita, tapi menjadi sumber inspirasi untuk memulai perubahan menuju kehidupan yang lebih baik di masa depan. Amien…, Amien…, Ya rabbal ‘alamien…
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْر.
Wahai Tuhan Yang mempunyai kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki, dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
اَللّهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُلْحِدِيْنَ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
Ya Allah, muliakanlah agama Islam dan tinggikanlah derajat kaum muslimin. Hapuskan segala bentuk kekufuran dan enyahkan segala bentuk kejahatan. Tegakkan panji-panji kebesaran-Mu hingga akhir nanti, dengan Rahmat-Mu wahai Dzat Yang Maha Pengasih.
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.
Ya Tuhan kami, berikanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.
اَللّهُمَّ انْصُرْ سُلْطَانَنَا سُلْطَانَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَانْصُرْ عُلَمَاءَهُ وُزَرَاءَهُ وَوُكَلاَءَهُ وَعَسَاكِرَهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَاكْتُبْ السَّلاَمَةَ وَالْعَافِيَةَ عَلَيْنَا َوَعَلَى الْغُزَّاةِ وَالْمُسَافِرِيْنَ وَالْمُقِيْمِيْنَ، فِيْ بَرِّكَ وَبَحْرِكَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ.
Ya Allah, tolonglah penguasa kami, pemimpin kaum yang beriman, tolonglah para ulama, tolonglah para menteri, pejabat, serta tentaranya hingga hari Akhir. Tetapkan keselamatan dan kesehatan bagi kami, orang-orang yang sedang berjuang, para musafir, serta yang tidak bepergian, baik yang ada di darat atau di laut-Mu—umat Muhammad dan seluruh umat manusia.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan Penguasa alam semesta.
وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

There was an error in this gadget